Site icon Widi Utami

Cerita Sederhana Membangun Kebersamaan dengan Suami

Cerita Sederhana Membangun Kebersamaan dengan Suami

Cerita Sederhana Membangun Kebersamaan dengan Suami

Emak K belum menyadari jika hari-hari kami yang penuh dengan perbincangan adalah hal yang harus disyukuri sepenuh hati. Kebersamaan sederhana yang tidak boleh kami lewatan. Masak bareng, makan sepiring berdua, stalking fesbuk berdua, hingga kolaborasi mengerjakan pekerjaan abah K sebagai web developper.

Kami bisa saja ngobrol berdua hingga tengah malam, membicarakan hal-hal receh hingga sesuatu yang tidak disukai dari pasangan. Menuntaskan hal yang mengganjal pada malam itu juga.

Hingga kemudian beberapa teman– beberapa ini lebih dari 10–, bercerita betapa ia merindukan perbincangan ringan dengan suami. Aku termenung, betapa hari-hariku barangkali adalah hal yang didambakan oleh pasangan lain.

Aku Ditegur Robbuna dengan ‘mendatangkan’ teman-teman yang ingin memperbaiki kebersamaannya dengan suami. Ada yang sudah bertahun-tahun tidak berbincang dalam dengan suaminya, bisa saja dalam beberapa hari cuma say hello padahal serumah. Ada pula yang suami tidak bisa diajak membicarakan hal-hal sulit terkait kondisi ekonomi mereka.

Lain cerita, ada seorang istri yang merasa sendirian berjuang mengayuh ‘kapal’ dan menjaga keseimbangannya agar tidak karam, sementara suaminya bersikap masa bodoh dan asik dengan hobinya.

Di belahan bumi lain, Emak K masih saja sibuk membahas betapa tidak romantisnya abah K. Allahu Rabbi, betapa tidak bersyukurnya diri ini. Aku pun mencoba untuk bertanya kepada abah K, setidaknya aku mendapatkan sudut pandang dari seorang suami, seorang lelaki yang akan selalu menjadi ‘bayi besar’ bagi seorang istri.

Sejauh Mana Kita Menyelami Hobi Suami?

Awal menikah, hari-hari kami penuh drama. Salah satu penyebab fatal yang menjadi pelajaran penting bagiku sekarang; tahun-tahun pertama pernikahan aku tidak mau tahu tentang hobi abah K ngobrak-abrik coding. Ehm, mungkin lebih tepatnya aku salah memahami.

Kukira, dengan membelikan paket internet, menyediakan laptop, menyediakan kopi saat ia berhadapan dengan coding sudah cukup untuk menunjukkan rasa peduli.

TERNYATA ENGGAK. Ternyata bukan itu poin penting yang diharapkan oleh suami. Iya sih, persediaan kopi dan camilan saat ngoding sudah menunjukkan jika istri peduli, tetapi suami tetap membutuhkan teman berbincang terkait coding.

Hayo nek aku nggolek teman ngobrol lain soal coding piye, Yi?” tanya abah K, suatu sore saat kami sedang menikmati ketela goreng.

Ndang, Kak. Sing ayu pisan.” aku merajuk.

Tahun kedua aku mulai belajar, mengamati apa yang sedang suami kerjakan. Jika dulu setelah mengantarkan kopi aku langsung pergi, di tahun kedua aku mencoba duduk di sampingnya, mengamati huuf demi huruf yang ia ketik.

Mumet?

Ya mesti, basa apa, Rek, kuwi.

“Kak, tadi sudah selesai?”

Durung, Yi. Flow-ne ra karu-karuan… bla bla bla.” lalu ia bercerita tentang PHP yang belum nyambung, SQL yang ancur-ancuran, Json yang belum ketemu salahnya ada dimana, dan server yang sedang down karena diobrak-abrik hacker.

Mak bleng! Aku berasa sedang ngobrol dengan alien. Terus, emak K belajar bahasa pemrograman? Kagaklah, bisa kelaparan seisi rumah kalau emak K nyemplung ke coding, konon, jika kamu sudah masuk ke bahasa pemrograman, kamu akan tersesat, enggak bakal bisa keluar. Hahahaha.

Sekedar tahu saja. Oh, HTML itu yang digunakan untuk membuat halaman web, membentuk visual halaman web. Oh, PHP untuk membuat web dinamis, agar fungsi yang dibuat tidak sepanjang kereta. Oh, flow itu alur operasi sebuah aplikasi. Dan, server yang down tidak bisa diatasi hanya dengan kecupan sayang. BHAHAHAHAHA

Segitu saja sudah membuat suami merasa, “My wife is know more than you.”

Efek dari menyelami hobi atau pekerjaan suami ini, kita bisa nyambung saat suami suntuk karena urusan pekerjaan. Ya, mana bisa curhat kalau istri enggak ngerti babar blas soal kerjaannya. Bye-bye statement, “Paling kamu yo enggak mudeng.”

Setelah suami lega cerita soal ruwetnya pekerjaan, biasanya ia akan lebih mudah untuk berbincang soal hal lain dan lebih bisa ‘mendengarkan’ curhat receh istrinya. Bener, lho, abah K biasa kucurhati soal temen dan tetangga, termasuk mencari ‘sudut pandang’ seorang suami.

Hidup dengan Keluarga Besar? Yuk, Sediakan Waktu untuk Keluar Berdua

IDiakui atau tidak, hidup dengan keluaga besar memang membutuhkan perjuangan yang lebih. Ada banyak hati yang harus dijaga, tidak sedikit sikap yang harus dibatasi agar tidak timbul prasangka.

Empat tahun pertama, kami berjuang dengan kondisi seperti itu. Sedikit-banyak, hidup dengan keluarga besar mempengaruhi sikap pasangan. Takut berbuat salah, sungkan dan tidak bebas. Kadang pasangan lebih memilih untuk menyendiri dengan hapenya hanya karena takut berbuat salah.

Mau menyapu takut kurang bersih. Pengen nyuci piring khawatir salah peletakan. Pengen bersih-bersih halaman khawatir salah merapikan tanaman. Menyendiri di kamar dianggap sesuatu yang paling minim resiko.

Dalam kondisi yang serba enggak enakan. Abah K mengajakku untuk keluar, sekedar menikmati wedang jahe di angkringan sambil membicarakan hal-hal yang urgent hingga hal-hal receh di kehidupan kami.

Ya, saat kita hidup di keluarga besar, ada baiknya kita menyediakan waktu untuk keluar berdua. Berbincang tentang apapun, termasuk hal-hal yang mengganjal selama di rumah. Berbincang di luar menjadikan kita lebih bebas membicarakan beragam hal.

Dulu aku baru tahu kenapa abah K kalau di rumah cenderung berdiam diri setelah pekerjaan selesai dan membiarkan aku menyelesaikan pekerjaan rumah sendiri juga saat kami berbincang di luar. Sampai sekarang kami masih memelihara kebiasaan berbincang di luar rumah sekalipun kami sudah ngontrak. Berbincang yang berkualitas tanpa distraksi apapun, no gadget betwen us.

Baru dua poin dan aku sudah menulis 700++ kata. Hahaha. Masih banyak variasi kegiatan untuk membangun kebersamaan dengan suami, tetapi intinya tidak bisa lepas dari dua hal tersebut. Kita bisa berbincang sembari makan sepiring berdua, membicarakan pekerjaan sembari masak bareng, membicarakan hal-hal receh sambil memijat, de el el, de es be. Masukkan ‘berbincang’ ke dalam kegiatan yang disukai.

Yuk, Mak, bangun kebersamaan dengan suami dan temukan ‘hal-hal tersembunyi’. Kalau Emak, lebih suka menghabiskan waktu bersama suami dengan kegiatan apa?

Exit mobile version