Disclaimer: Tulisan ini murni pengalaman pribadi.

Ditolak saat nglamar gawean?

SERING!

Mending jika ditolak nglamar gawean karena memang tidak punya kemampuan sesuai dengan job description yang diajukan. Lha, kalau ditolak hanya karena nggak bisa mengangkat telepon? Halah, nyeseknya, Mak!

Susah menghubungi seseorang karena nggak bisa telepon?

JANGAN TANYA.

Nggak Cuma sekali aku menangis gegara susah ketemu dosen, sementara teman-temanku bisa curhat kepada dosen pembimbingnya lewat telepon. Yaaa, karena ada beberapa dosen yang membuka sms sepulang dari kampus, menurut beliau sms bukan hal yang mendesak. Emaaaaaak!

Saat LDR-an dengan suami karena KKN, teman se-posko bertanya, “Kok nggak pernah teleponan dengan suami, nggak kangen?”

KANGEN BANGET, TETAPI JANGAN TANYA TENTANG TELEPON, PLEASE!

Telepon adalah salah satu hal yang sangat horor bagiku, seorang deaf parsial. Dengan keterbatasan yang kumiliki, segala informasi yang berwujud suara sangat sulit kupahami, jika tidak ingin menjuluki mustahil.

Aktivitasku lebih banyak bergaul dengan kalangan umum, yang mau tidak mau aku harus membiasakan diri untuk berbicara dan ‘mendengar’. Saat usia sekolah, aku harus belajar keras untuk berbicara. Meminta keluarga untuk melatihku kata demi kata dengan mengandalkan gerakan mulut yang JELAS.

Ingin mempraktikkan?

Berhadapanlah dengan seseorang. Berbicaralah tanpa suara, minta lawan bicaramu untuk mengulang apa yang kamu ucapkan tanpa suara tadi. Mirip-mirip kuis di televisi itu, lhoh. Begitulah cara berkomunikasi yang kujalani setiap hari.

Dalam keseharian aku lebih sering berinteraksi dengan buku daripada hiburan lainnya, seperti televisi, radio, apatah lagi mp3. Ya, karena aku pun harus belajar lebih keras daripada teman-teman yang lain, apalgi jika bukan dari buku. Dulu, sebelum internet booming seperti jaman sekarang, aku sering menikmati televisi bersama keluarga, dengan catatan, aku sering bertanya, “Itu tadi ngomong apa, Mbak?”

Bayangkanlah, betapa terganggunya orang yang sedang menonton televisi bersamaku. Hahahaha.

Aku sering—lagi-lagi jika nggak mau dibilang selalu—menjadikan telinga sebagai alasan untuk tidak belajar dan berbagi. Menolak untuk belajar dengan alasan khawatir tidak bisa mengikuti pembicaraan. Menolak untuk berbagi karena khawatir tidak mampu berineraksi dengan orang lain. Rasanya sudah cukup sakit hati karena diejek oleh orang lain saat nggak nyambung diajak berbicara. Cerita-cerita yang sangat tak pantas untuk diceritakan disini. Aku lebih memilih untuk menyendiri daripada merasakan sakit hati berulang kali. Tidak heran jika lingkaran teman-temanku itu-itu saja.

Percakapan di Suatu Senja

“Ayi, kalau aku pasang Indihome, bagaimana?” tanya Abah K, pada suatu senja satu tahun yang lalu.

Sebagai istrinya, aku mengerti tentang kelelahan beliau mengejar sinyal yang tergolong sulit dijangkau di kampung kami. Berkali-kali ganti provider, kami belum menemukan provider yang cocok di hati. Pekerjaan beliau sebagai freelancer programmer sangat tergantung pada koneksi internet. Berbagai cara telah kami lakukan, termasuk memasang antena panci demi menangkap sinyal modem. Bahkan beliau rela hujan-hujan ke pusat kota, mengejar target di Plasa Telkom untuk mengerjakan pesanan klien. Demi apa jika bukan demi keluarga kecil kami.

Di Plasa Telkom, kami bisa internetan dengan koneksi 20 MBps selama 24 jam hanya dengan voucher seharga limaribu rupiah.Voucher bisa dibeli langsung di Plasa Telkom. Tetapi, cara ini ternyata bukan solusi yang tepat, mengingat jarak plasa Telkom dengan rumah kami yang mencapai 10 KM. Pun, seringkali gangguan website tidak bisa diprediksi waktunya. Lhah, kalau gangguan terjadi pada dini hari, apa tega membiarkan abah K motoran malam-malam sepanjang 10 KM demi koneksi internet? Horor!

Maka, aku pun mempersilahkan abah K untuk memasang Indihome di rumah. Beliau segera menghubungi salesman Telkom untuk request pemasangan.Setelah registrasi dan survey lokasi rumah, petugas menyatakan jika lingkungan rumah kami bisa dipasang Indihome dengan menyambungkan kabel FO dari Pabrik yang terletak 10 M dari rumah.

indihome-1

Saat petugas Telkom mengunjungi rumah, kami kembali berdiskusi untuk memutuskan paket apa yang akan kami ambil. Aku mempersilahkan abah K untuk memilih paket yang disediakan oleh Indihome. Abah K memutuskan untuk memilih paket unlimited 10 MBps, free Usee TV sebagai hiburan Emak K, dan free telepon 1000 menit sebagai operasional CV yang tengah beliau rintis.

Tak banyak syarat yang perlu kami siapkan. Kami hanya menyiapkan fotokopi KTP, materai–karena aku nggak punya stock persediaan materai, aku memilih untuk membeli dari mas-mas pegawai Telkom– dan menandatangani surat perjanjian. Bea pemasangansebesar Rp. 75.000,00 dibebankan pada tagihan bulan berikutnya. Sore itu, di tengah hujan deras Indihome resmi terpasang di rumah. I am so speechless mas-masnya rela menerjang hujan demi memasang sesuai jadwal.

Yak! aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada segambreng alasan cengeng di atas. Sekarang (mestinya) nggak ada alasan untuk badmud karena fasilitas internet melimpah ruah di rumah. Nggak bisa telepon, bisa video call-an dengan mudah. Nggak diterima kerja dimana-mana, adalah sebuah pertanda agar aku berwirausaha, toh sekarang klien lebih menyukai komunikasi via chat daripada via telepon. Stock bacaan menipis, tinggal berselancar di usee TV, cari tontonan ber-subtitle yang melimpah ruah, tak perlu lagi khawatir mengganggu orang lain dengan pertanyaan, “Itu sedang ngomong apa?”. Dan senangnya, aku bisa mengakses internet dengan tenang di tempat manapun yang terangkau wifi.id.

Bye!

Menjadi Ibu Pembelajar

“Sudahlah, nikmati saja, niatkan belajar.” Dhawuh Abah K, pada suatu hari saat aku lelah mendapatkan kejutan-kejutan dari si K. “Cari informasi sebanyak-banyaknya, dari siapapun.”

Aku yang jarang berinteraksi dengan bayi, sering panik setelah ada si K dalam kehidupanku. Dari si K yang panas, hingga si K yang terkena roseola. Daripada galau nggak jelas, maka aku memutuskan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dari pengalaman orang lain maupun jurnal-jurnal kesehatan.

Media sosial yang bejibun sangat membantuku, aku tak lagi dipusingkan dengan bea sms-an, tinggal chat saja. Lha, dulu saat internet dan chat belum booming, untuk mendapatkan informasi lumayan menguras hati, teman-teman lebih senang ditelepon daripada menjawab sms, karena bagi sebagian orang sms menghabiskan pulsa.

Aktivitasku setiap malam saat si K tidur. Abah K kerja, Emak K belajar.

Aktivitasku setiap malam saat si K tidur. Abah K kerja, Emak K belajar.

Dengan koneksi Indihome yang stabil, mendapatkan informasi lebih mudah. Aku pun bisa belajar kapanpun sembari menunggui si K yang tengah tidur. Belajar merajut dari streaming video tutorial merajut. Belajar editing video, belajar berbagai stimulasi untuk perkembangan si K, belajar apapun yang kuinginkan. Nggak perlu lagi mutar-mutar antena panci untuk mencari sinyal modem, karena koneksi fiber indihome sangat stabil di kisaran 10 MBps. Nggak perlu lagi memikirkan kuota yang menipis, Abah K memilih paket unlimited. Yang kulakukan sekarang adalah belajar untuk mengatur waktu, agar tugas utama mengasuh si K tidak terganggu.

Bekerja dari Rumah, Why Not?

“Serius Widi? Kamu nggak ingin jadi PNS?”

“Yang bener? Sayang dong, sudah susah payah sekolah sampai sarjana. Apalagi kamu, perjuangan untuk sekolah di sekolah umum pasti nggak gampang.”

Yap, banyak yang menyayangkan ketika aku menyanggupi permintaan Abah K untuk tidak menjadi PNS dan mengasuh anak sendiri. Aku pun, awalnya ragu, bagaimana bosannya di rumah berkutat dengan ecel-precel rumah tangga.

Tetapi, bukan Abah K namanya jika mengajukan permintaan tanpa memberikan solusi atas kekhawatiranku, termasuk kekhawatiran mati bosan di rumah. Whahaha, yang ini asli lebay! Abah K menawarkan kepadaku untuk berbisnis dari rumah, modal disediakan oleh beliau, termasuk koneksi internet, mesin fotokopi, perlengkapan jualan, ponsel, laptop dan lain sebagainya.

Beliau meyakinkan jika aku bisa memulai bisnis hanya bermodalkan chat dan tulisan. Website jualan pun beliau sediakan. Aku memulai bisnis percetakan undangan dan sovernir. Dulu, sebelum si K lahir, aku menanganinya seorang diri, membungkus sovernir, cetak undangan, jilid, desain. Keuntungannya lumayan banyak, nyaris 100% dari modal yang dibutuhkan. Tetapi, sekarang aku memilih untuk menggandeng partner kerja. Memang keuntungan bersih paling-paling hanya 10% dari total order, tetapi aku memiliki waktu yang sangat cukup untuk membersamai si K yang sedang aktif-aktifnya.

Siang hari, sembari mengasuh si K, aku merekap data dan mengetik urusan surat-menyurat abah K.

Siang hari, sembari mengasuh si K, aku merekap data.

Untuk bisnis ini aku benar-benar belajar dari nol. Hitung-hitung belajar yang dibayar. Segala bentuk transaksi dilakukan via chat dan email. Promosi via website dan media sosial membuat jangkauan klien lebih luas. Dengan koneksi internet yang stabil, respon kepada klien pun bisa lebih cepat. Klien terjauh sejauh ini dari Papua dan Sumatra Selatan. Pilihan Abah K untuk memilih Indihome ternyata sangat tepat, kami tidak perlu lagi khawatir tentang timbul-tenggelamnya sinyal saat musim hujan tiba. Indihome yang menggunakan fiber optic tidak terganggu dengan hujan deras, bahkan guntur sekalipun. Yang kami khawatirkan hanya dua, saat mati listrik dan berada di daerah yang tidak terjangkau wifi id! Hahaha.

indihome-4

Dan, menjadi kepuasan tersendiri karena aku berhasil mematahkan anggapan bahwa tunarungu tidak bisa diandalkan untuk bekerja.

Telepon bukan satu-satunya cara komunikasi dengan klien, kan?

Mimpi Emak K

Aku memiliki mimpi yang sampai sekarang masih diawang-awang. Apalagi jika bukan terkait dengan ketunarunguan. Aku mungkin bisa menulis selancar ini karena aku sekolah di sekolah umum, belajar apapun, suka membaca apapun. Tetapi, bagaimana dengan teman-teman tunarungu yang tidak seberuntung WiDut?

Vlog Bahasa Isyarat

Sahabat Tuli Salatiga mempunyai program untuk mengenalkan bahasa isyarat ke kalangan umum agar teman-teman tunarungu bisa berbaur dengan kalangan umum. Tetapi hal ini sangat terbatas tempat dan waktu.

Aku punya mimpi untuk meng-kampanyekan bahasa isyarat ke kalangan umum melalui vlog. Dengan kampanye melalui Vlog, diharapkan jangkauannya lebih luas dan tidak terbatas ruang maupun waktu. Yah, konsepnya masih di-godog, dan aku sangat membutuhkan support untuk menyelesaikan vlog bahasa isyarat. Abah K menyediakan laptop untuk editing video, handphone untuk merekam dan koneksi internet indihome; tetapi, untuk bahasa isyarat aku membutuhkan sahabat-sahabat penyandang tunarungu, dan kami belum menemukan waktu yang pas untuk bertemu.

Vlog TuliNgaji

Bersyukurlah siapapun yang bisa mengaji dengan media apapun, dari radio, televisi maupun ceramah langsung. Aku pun, aku sangat bersyukur memiliki yai yang sangat sabar untuk mengajar, beliau berusaha keras agar gerakan bibirnya bisa kubaca. Tetapi, bagaimana dengan teman-teman tunarungu?

Aku diam-diam menangis saat seorang teman tunarungu mengeluh karena belum ditemukan dengan guru mengaji yang bisa berbahasa isyarat. Aku pun, aku kesulitan untuk menerjemahkan bahasa pengajian ke dalam bahasa isyarat karena terbatasnya kosakata isyarat yang kukuasai.

Maka, aku segera menghubungi seorang sahabat yang adiknya penyandang tunarungu untuk menjadi guru mengaji dengan membuat Vlog TuliNgaji, agar penyandang tunarungu dimanapun bisa mengaji. Sekarang, program ini baru berjalan dua episode. Terpaksa berhenti sementara karena yang membawakan TuliNgaji sedang sibuk dengan aktivitas mengajar sekolah dan kesenian menggambar, pun kakaknya yang selama ini merekam sedang sibuk menyelesaikan skripsi.

Start Up Difable

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat deaf meng-inboxku melalui messenger facebook, bertanya tentang pekerjaan yang sesuai dengan seorang deaf. Melow? Pasti, aku teringat masa-masa saat ditolak berkali-kali.Diantara mimpi-mimpiku yang lain, mimpi inilah yang menurutku berat dan membutuhkan support besar dari beberapa orang. Aku belum cukup mental untuk menggerakkan komunitas sendiri.

Aku mengutarakan keinginanku untuk membuat start up difable kepada keluarga dan sahabat terdekat. Mereka sangat mendukung dan memintaku untuk segera menyusun konsep start up. Bahkan ada beberapa yang siap untuk menyumbangkan materiil dan pelatihan keahlian bagi teman-teman difable. Aku sungguh terharu, betapa di luar sana ada seribu orang yang memandang kami dengan positif diantara satu-dua orang yang meremehkan kami.

Konsep dasar start up yang kumimpikan adalah start up yang mendukung penyandang difable untuk berkarya sesuai dengan kemampuannya. Deaf dengan kemampuan visualnya yang tinggi, tunanetra dengan kemampuan audionya yang tinggi, cerebral palsy dengan kemampuan logisnya, dll. Tinggi, ya? Tetapi, who knows?

Doakan kami, agar kami tetap survive mewujudkan mimpi meski aral melintang di hadapan kami. Kini, dengan dukungan #IndonesiaMakinDigital, kami tak perlu lagi ketakutan dengan telepon atau apapun yang berbau suara.

Ya, Never Ending Learning and Sharing. Kini tidak ada lagi alasan untuk tidak belajar dan berbagi.