K's Family

Langit Musik dan Terapi Pendengaran Seorang Deaf

Sebagai seorang deaf, aku dulu sangat membenci segala hal yang terkait dengan suara. Entah sesi mendengarkan, musik, maupun instrumen musik. Pelajaran seni musik menjadi pelajaran yang paling menakutkan di samping listening. Rasanya, lebih baik mengerjakan matematika sebanyak lima puluh soal daripada disuruh menyanyi di depan kelas.

Yang benar saja, seorang deaf tetap dibebankan ujian menyanyi. Dan… menyanyi selalu diawali dengan mendengar, kan? Ditambah suaraku yang datar, harapan nilai menyanyi tuntas sebagaimana mestinya sangat tipis. Well, aku pun membenci musik hingga ke tulang sunsum. Bagiku menghadapi pelajaran seni musik jauh lebih menakutkan daripada harus sowan ke kuburan tengah malam saat malam pelantikan Bantara dan kegiatan sekolah lainnya.

Saat kuliah semester dua, seorang dokter memintaku mendengar musik, menikmatiya sebagai bagian dari terapi mendengarkan dan berbicara. Hah? Dokter malah menyuruhku mengakrabi hal yang paling kubenci. Krik-krik… Meski sedikit tidak percaya dengan dokter, aku tetap memaksakan diri untuk mencari uba rampe, eh, maksudku, peralatan untuk mendengarkan musik. Headshet menjadi daftar yang paling pokok, diikuti handphone dan beberapa lagu beraliran slow.

Langit Musik dan terapi pendengaran seorang deaf
Langit Musik dan terapi pendengaran seorang deaf

Musik dan Terapi Pendengaran

Sebenarnya, pertemuanku dengan dokter yang menganjurkan untuk mendengarkan musik sebagai bagian dari terapi pendengaran dan berbicara terhitung sangat terlambat. Aku baru memulai di usia 20 tahun, enam belas tahun setelah aku menyadari jika daya dengarku tidak sama dengan teman-teman sebaya. Tetapi, toh, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Masih ada sisa umur yang harus kupertanggungjawabkan, untuk apa sisa pendengaran yang sudah Diberikan Robbuna untukku.

Dengan ambang batas telinga kanan 75 dB dan telinga kiri 87,5 dB, aku masih memiliki sisa pendengaran 15 dB di telinga kanan dan 2,5 dB di telinga kiri yang harus kumanfaatkan dan kusyukuri dengan semaksimal mungkin. Carrol Robbins, seorang trainer musik yang membuat kurikulum terapi musik bagi penyandang deaf yang masih memiliki sisa pendengaran, menemukan dalam penelitiannya bahwa dengan musik yang cocok lebih gampang untuk di dengar dan diasimilasikan dibandingkan dengan percakapan, sehingga lebih cocok untuk dapat menstimulasi motivasi alami pada sisa pendengaran.

Robbins juga menuturkan jika kontribusi dari terapi musik untuk memperkuat dan/atau mempercepat pembelajaran dan penggunaan percakapan, vokal yang lebih luas/spontan dan mantap, memperbaiki kualitas suara dan lebih leluasa dalam menggunakan intonasi dan ritme. Selama ini aku tidak mencoba untuk mendengarkan aneka jenis suara, memori tentang lekukan nada, tinggi-rendah nada sangat sedikit. Inilah jawaban kenapa suaraku cenderung datar dan membosankan.

Selain sebagai stimulasi dalam mengggunakan intonasi dan ritme penyandang deaf, musik juga dapat digunakan sebagai penambah kosakata dan meningkatkan komunikasi secara umum. Terapi musik pun dapat digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan jiwa sosialisasi, kesadaran diri, kepuasan emosinal dan meningkatkan kepercayaan diri. Seorang deaf rata-rata mempunyai body image yang cenderung kaku, depresi, tertutupnya rasa sosialisasi. Terapi musik dapat memberikan kesempatan kepada penyandang deaf untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan cara mengekspresikan emosinya melalui musik.

Sebegitu pentingnya terapi musik bagi seorang penyandang deaf, Carol Robbins secara serius menyusun kurikulum untuk membantu penyandang deaf. Sayangnya, di Salatiga aku belum menemukan terapi musik bagi penyandang deaf. Daripada menunda terapi, sedangkan usia terus saja bertambah, lebih baik memulai sendiri dengan modal seadanya.

Perjalanan Awal Terapi

Awal-awal terapi, aku memanfaatkan sederet mp3 yang kusimpan di HP java dengan kapasitas memori yang sangat terbatas. Setidaknya ada empat lagu yang kusimpan, Sebelum Cahaya-nya Letto, Lir-ilir-nya Habib Syekh, Syiir tanpo Waton-nya Gus Dur, dan Que Sera-sera. Genre musik yang slow dengan sedikit instrumen sehingga lirik lagu bisa kutangkap dengan jelas meskipun aku harus mengatur suara ke volume paling maksimal. Sampai sekarang aku belum mampu menangkap lirik yang memiliki instrumen jedar-jedor, pusing pala eike, Bang!

Mau tahu bagaimana aku menikmati musik?

Hahaha, tolong, ya. Jangan tertawakan caraku. Please, sebenarnya aku malu, tetapi daripada kalian penasaran higga membuat kalian tidak bisa tidur, lebih baik kuceritakan langsung. :p

1| Menirukan Gerakan Mulut Orang Lain

Menirukan gerakan mulut orang lain adalah salah satu cara paling favorit sejak menikah. Abah K akan memutar lagu beraliran slow, biasanya sholawat, di handphone-nya dengan headshet di telinga beliau dan telingaku, kemudian aku mengikuti gerak mulut beliau. Romantis? Actually, yess! Momen ini menjadi salah satu cara untuk menikmati waktu bersama setelah seharian beraktivitas.

Tetapi, sejak si K lahir, kami kesulitan untuk menikmati waktu bersama dengan model seperti ini, salah-salah malah headshet-nya ditarik-tarik si K. Pun, cara ini bukan cara yang tepat karena aku sangat bergantung dengan ketersediaan waktu abah K, jika beliau keluar kota atau sedang sibuk dengan pekerjaan, maka terapiku berhenti. Padahal jika aku tidak membiasakan mendengar dalam jangka waktu lama, aku harus belajar lagi dari nol. Huhuhu. So sad.

Skip, cara ini hanya kugunakan jika dan hanya jika kesempatan mendukung.

2| Laptop dan Video Ber-Subtitle

Awalnya, aku harus mencari sebuah video lengkap dengan subtitle-nya, kemudian menancapkan headshet di laptop dan mendengarkan musik sembari melihat subtitle-nya. Sedikit repot, tetapi setidaknya aku tidak bergantung kepada orang lain. Tetapi, cara ini hanya cocok ketika aku belum punya anak. Ya, tahu sendiri repotnya mempunyai anak batita seperti apa. Semenjak si K lahir, aku harus menunggu si K tidur dan tidak ada pekerjaan lain untuk terapi menggunakan laptop. Kan nggak mungkin bawa-bawa laptop sembari mengasuh si K, salah-salah malah si K kecanduan laptop.

Laptop, Video Bersubtitle dan Headshett

Oke, skip lagi. Aku harus mencari cara lain agar terapi tetap jalan.

3| MP3 dan Catatan Lirik Lagu

Setidaknya ada tiga hal yang harus kupersiapkan jika menggunakan cara ini: Bolpoin, buku dan handphone dengan koneksi internet. Langkah yang ditempuh pun tergolong ribet, download mp3, browsing lirik lagu dan menyalinnya ke buku, kemudian baru mendengarkan sembari membaca catatan lirik lagu.

Hp, Buku&pen, Headshett

Aku tidak bisa multitasking jika menggunakan cara ini. Oke, skip lagi.

4| Langit Musik, Solusi paling Simpel dan Asik!

Aku jatuh cinta dengan Langit Musik satu bulan yang lalu ketika mencoba di handphone-nya mbakku. Cara paling simpel dan praktis diantara tiga cara yang lain. Hanya butuh handphone android dan headshet.

Langit Musik, Simpel dan Asik!

Kenapa Langit Musik Menjadi Pilihan Paling Asik?

1|Mendengarkan Musik dengan Legal

Langit Musik adalah platform yang menyediakan musik secara legal. So, dengan mendengarkan musik melalui Langit Musik, kita berperan aktif dalam mendukung kemajuan dunia musik tanah air. Tahu sendiri, kan, pembajakan menjadi faktor lesunya perkembangan industri musik tanah air.

2| Subtitle–Must Have for Me

Satu-satunya alasan kenapa aku rela mencoba download Langit Musik dari berbagai handphone adalah karena teman-teman di grup membahas jika Langit Musik ada subtitle-nya! Aku nggak mau percaya begitu saja sebelum membuktikan sendiri. Dalam otakku saat itu, wah, enak buat terapi nih kalau memang ada subtitle-nya di setiap lagu.

Subtitle Langit Musik
Subtitle Langit Musik

Dan, yiha! aku menikmati subtitle-nya Langit Musik, membantu banget untuk mendeteksi suara penyanyi sampai dimana.

2| Low Storage

Handphone yang kupakai untuk mendownload Langit Musik adalah tipe Android 5.1 dengan RAM hanya 512 MB dan storage seuprit karena yang punya nggak mau upgrade micro sd, padahal data yang disimpan banyak banget. Ternyata, Langit Musik bisa berjalan baik-baik saja di handphone ini, tanpa peringatan memori penuh atau sayangnya bla bla bla telah berhenti seperti ketika aku mencoba aplikasi lain.

Ya, Langit Musik menjadi solusi untuk handphone yang tidak mempunyai kapasitas memori yang besar. Kecuali jika ingin mendownload mp3-nya. Kalau aku, lebih prefer streaming, sayang kuota unlimited wifi di rumah jika tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Jika nggak ada wifi pun, sebagai pengguna Telkomsel kita bisa streaming Langit Musik dengan gratis, tanpa mengurangi kuota yang diirit-irit. Jadi, nggak perlu khawatir dengan memori yang terbatas.

3| Multi Task

Langit Musik tidak membutuhkan kapasitas memori yang besar, jadi kita bisa mendengarkan musik sambil membuka aplikasi lain meskipun handphone kita mempunyai RAM minimalis. Hihihihi. Ini sangat menguntungkan pengguna multitasking yang hobi mendengarkan musik sambil membuka facebook, instagram, blogpost, de-el-el. Kalau aku, aku hanya membuka Langit Musik dong, menikmati subtitle-nya, hehehe.

4| My Musik

Di Langit Musik, Play List pilihan kita disimpan di My Music. Jadi kita bisa memutar lagu-lagu favorit tanpa harus mencari lagi di kotak search. Aku menamakan Play List-ku dengan WiDut’s Therapy.

5| Share

Langit musik memfasilitasi kita yang hobi nge-share sesuatu dengan menu share melalui facebook dan twitter. Cocok banget buat kita-kita yang ingin menikmati musik bersama-sama, atau… sebagai modus curhat. Kan, kadangkala ada yang mendengarkan sebuah lagu karena merasa gue banget. Solusi jitu untuk yang malas mengarang kata-kata, share saja musik yang sedang didengarkan melalui Langit Musik.

6| Suara Bening!

Asli, setidaknya dari dua playlist yang kusimpan, Que Sera-sera dan Sebelum Cahaya, aku bisa mendeteksi lirik lagu dengan mudah. Bening, tanpa suara kemresek yang mengganggu. Kok cuma dua yang dijadikan contoh? Iya dong, habis Lir-ilirnya Habib Syech belum ada subtitle-nya dan aku belum menemukan Syiir Tanpo Waton Gusdur. Kan review ini harus jujur, aku hanya membandingkan dengan lagu yang sering kupakai untuk terapi. Begitu.

Nah, daku yang pendengarannya sedikit terganggu saja bisa menikmati, apalagi untuk yang telinganya normal, kan? Pasti jauh lebih menikmati. 🙂

Tak Ada Gading yang Tak Retak

Tak ada gading yang tak retak, kesempurnaan hanya milik Rabbuna semata. Aku tahu banget, kok, membuat aplikasi tidak mudah. Apalagi mencari script yang nyelip, bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Padahal script yang nyelip hanya seuprit, mengganggu salah satu fungsi aplikasi, dus komplain dari pengguna segambreng.

Awal-awal men-download aplikasi Langit Musik, aku dibuat kecewa karena tidak bisa memakai handphone-ku sendiri, ya kalii, handphone-nya android tipe 4, belum 4.4 sebagaimana syarat minimal bisa menikmati Langit Musik. Mencoba memakai milik abah K yang tipe androidnya 5.1 pun gagal, demi mengobati penasaran, aku rela meminjam handphone mbak yang sampai menginap berhari-hari karena aku kecanduan streaming dengan Langit Musik.

Eh, tahu tidak? Saat aku tadi mencoba sekali lagi menggunakan handphone abah K, ternyata sudah upgrade, dan… tara, berhasil! Aku kagum dengan feedback yang cepat ini. Ya, aku tidak jadi komplain soal hal ini, tetapi teteup request  Langit Musik versi android kaum sudra sepertiku dong. Hahaha

Errr, boleh nggak, request subtitle untuk lagu-lagu sholawat pakai huruf arabic, gitu. Hehehe, aku tahu membuat subtitle tak mudah, tetapi, boleh ya ya ya.

Dengan senang hati, tanpa paksaan pihak manapun, untuk aplikasi Langit Musik ini, aku memberi rating 4 dari 5 skala, maunya sih memberi rating 4 plus plus, tetapi apa boleh buat, rating yang tersedia hanya bilangan bulat belaka. Karena kesempurnaan hanya milik Rabbuna semata.

Sebentar, Dut, cara download Langit Musik bagaimana? S dan K-nya apa?

Gampang, Cyn. Pastikan saja handphone-mu minimal Android 4.4 dan kamu memiliki nomor Telkomsel. Langsung cuss download Langit Musik di Play Store.

Dah, gitu saja?

Iya… Hanya dengan dua syarat tersebut, dikau sudah streaming-an gratis sepuasnya memakai Langit Musik tanpa menghabiskan kuota. Apalagi jika mendaftar sebagai pengguna premium, download gratis, Bro. Legal lagi.

Postingan blog ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Review Aplikasi Langit Musik kerjasama Langit Musik dan Warung Blogger

Pencarian Terkait:

  • LANGIT MUSIK mp3
  • Mp3 Langit Musik

30 thoughts on “Langit Musik dan Terapi Pendengaran Seorang Deaf”

  1. Aku setuju kalau suaranya bening Mbaa.. Yah namanya juga legal yaa.. Jangan disamain sama yang bajakan, wkwkwk.. Lewat Langit Musik aku baru “ngeh” ada suara bass yang oke banget di intronya “Kali Kedua” milik Raisa. Superb!!!

  2. Mbak Widi, tulisannya inspiratif banget.
    Mbak, aku pernah nonton serial Switched at Birth, di situ salah satu tokohnya kebetulan tuna rungu, tapi justru jago main drum dan punya band. Jadi musik bukan cuma untuk didengarkan tapi juga bisa dirasakan. Benar gitu ga sih, Mbak? Aku sendiri bukan tipe yang rajin dengerin musik sih.

    1. Drum kan kerasa getarannya, mbak Dian. Biasanya tunarungu justru peka di getaran. Aku sendiri kalo ada mobil liwat polisi tidur kaget banget.

    1. Itu memang ambang batasnya bisa dengar segitu, jd ga bahaya, Mbak. Cuma nanti kalo sudah terbiasa dg volume maksimal, disarankan untuk menurunkan volume, dilatih trus. Gitu. Hihihi. Aku alhamdulillah udah turun satu strip di bawah volume maksimal sekarang.

  3. Utk lirik arab memang blm ada ya, Mbak. Aku jg nyari sih. Yg pendengaran normal aja kebantu bgt belajar pakai musik. Mbak juga semangat terapinya….

    Salut sama dirimu. Oh iya ada lagunya endang soekamti kalo gak salah itu ada klip pakai bhsa isyarat

  4. Langit musik ini pasti surga banget buat para pencipta lagu dan penyanyi Idoensia ya mbak, krn mendukung penyebaran musik yang legal. TFS buat info aplikasinya ntr coba unduh ah 😀

Bagaimana komentar kalian?