Me and Hubby

Karena Sekolah Bukan yang Utama

Terlahir dari keluarga petani yang sangat sederhana, membuatnya harus berfikir keras hanya untuk sekolah. Jangankan uang saku, biaya sekolah saat MTS saja dibantu beasiswa. Tugasnya hanya satu, belajar. Selepas MTS, ia memutuskan berhenti sejenak. Bukan, bukan berhenti untuk menuntut ilmu, tetapi berhenti sejenak untuk mengumpulkan kembali receh demi receh agar bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Di bantaran kali dekat rumahnya terbentang pasir putih yang siap digali oleh penambang. Di situlah ia berikhtiar sekuat tenaga. Menggali, mengumpulan butir demi butir pasir putih untuk dijual ke penadah. Sayang, ia bertemu dengan penadah yang curang, pasirnya dihargai sangat murah. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjual sendiri tanpa melalui penadah.

Hari-harinya diisi untuk menambang pasir. Beberapa rekan kerjanya memutuskan untuk menyalurkan hasil tambang kepadanya yang memberi harga logis daripada menjual ke tengkulak yang rakus mencari untung nyaris 100%. Pulang tarawih, bukannya ia tidur seperti lazimnya orang-orang, ia memanfaatkan waktu malam bulan puasa untuk menambang sampai tiba waktu sahur. Siang hari di bulan puasa digunakannya untuk tidur. Dengan cara ini, ia bisa tetap kerja berat di bulan puasa.

Lakon sebagai tambang pasir dihentikan saat tiba tahun ajaran baru tiba. Uang hasil menambang ia gunakan untuk mendaftar sekolah di Madrasah Aliyah di dekat rumahnya. Demi menumpaskan dahaga ilmu yang ia rasakan saat menjadi penambang pasir. Ia gunakan baik-baik kesempatan untuk sekolahnya dengan belajar. Waktu istirahat adalah waktunya untuk bermesraan dengan perpustakaan. Usahanya tidak sia-sia, saat hari kelulusan tiba, ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik di jurusannya.

Sungguh, aku tidak menyangka, sama sekali tidak menyangka kisah di atas adalah bagian dari masa lalu abah K, lelaki yang menjadi suamiku sekarang.Seorang lelaki yang tidak peduli dengan ijazah. Sampai-sampai selepas menikah, aku merasa harus bertanya kepada Bapak Mertua tentang kebenaran cerita ini, dan beliau mengiyakan dengan menyodorkan VCD berisi rekaman wisuda. Diperkuat dengan buku diary yang berisi curhatannya.

Ha? Abah K punya buku diary? Apa isinya, Dut? Nothing secret betwen us, pokoke. :p

Ya, perjuangan untuk bisa sekolah dan kuliah ternyata ada di dalam kisah hidup abah K yang tidak begitu peduli tentang keberadaan ijazahnya. Baginya, yang ia cari bukan sekolah, kuliah atau ijazahnya, tetapi ilmu dan persaudaraannya.

Maka, tak heran jika kuliahnya di Pendidikan Geografi, keahliannya ada di coding. Dua cabang ilmu yang pada akhirnya bersimpul pada Google Map! Whahahah.

Ia menjalani kuliahnya dengan siklus yang menurutku aneh. Wkwkwkwk, rela nongkrong semalaman di warnet demi belajar coding saat belum mempunyai laptop. Berangkat kuliah dengan muka bantal. Saat kutanya berapa lama ia menjalani siklus aneh ini, beliau menjawab, sekitar 2 tahun sampai ia mempunyai laptop sendiri. Bah, pantas badanmu cungkring kek tulang doang gitu, Bah!

Aku tak sanggup membayangkan hari-harinya di Surabaya dengan kondisi beasiswa Bidik Misi yang saat itu sering macet bea bulanannya. Sungguh, i would say thanks to everyone beside him. Aktivitas ngapelin warnetnya memang sudah berhenti, tetapi aktivitas untuk belajar coding semalam suntuk masih awet sampai sekarang. Hobi begadangnya berteman dengan kopi dan kacang, bukan makanan berat berlemak lainnya. So, inilah jawaban dari pertanyaan kenapa abah K badannya segitu-gitu saja, BUKAN KARENA ISTRINYA MALAS. CATET, woy, yang hobinya ngebully eike, CATET! Tetapi kalau mau keukeuh itu karena salah istrinya ya monggo. 😛

Learning by Doing, Belajar yang Dibayar. :p

Hahaha, ya, kami memang menjadikan aktivitas kerja sekaligus sebagai aktivitas belajar. Pun Abah K, jangan disangka jika beliau mengerjakan seabreg project artinya beliau sudah expert di bidang tersebut. Gaya belajarnya yang cenderung bergaya PBL, Problem Based Learning membuatnya enjoy ketika menemukan masalah demi masalah coding. Baginya, saat permasalahan coding berhasil diatasi, bahagianya ngalah-ngalahi ketika bayaran cair. Mhuahaha, kalau yang bahagia saat bayaran cair sih, istrinya. :p

Dua tahun bersamanya, rasanya tidak ada hari tanpa belajar. Aku yang masih kuliah pun harus angkat topi, sebab ia rela belajar logaritma, diferensial, logika, dll, dari dasar. Padahal eike yang jurusan khusus Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Matematika nggak ngerti apa gunanya seabrek materi yang kupelajari di dunia riil. Wkakakakak. :v

Ya, begitulah.

Sosok yang kadangkala menyebalkan itu telah melewati 27 tahun umurnya dengan belajar tak kenal henti. Seorang lelaki yang kupercayakan padanya untuk menjadi ayah bagi anak-anakku. Sosok yang antimainstream, seringkali sahabat-sahabatku bertanya karena kami lebih terlihat saling ‘membully’ daripada romantis. Ya, biarlah keromantisan dinikmati kami berdua.

Sosok yang semangatnya untuk berdedikasi di balik layar pendidikan tak usah diragukan lagi, kamus Geografi, Journal Finder yang dikerjakannya dengan begadang bermalam-malam dibagikan secara gratis, semua orang bisa mengunduh hanya bermodalkan kuota internet.

Milad sa’id, abah K.

Lautan doa untukmu, senantiasa. Berkah usia, berkah segalanya.

2 thoughts on “Karena Sekolah Bukan yang Utama”

  1. Ini kado yang romantis Mba..wkwkwk..

    Selamat milad abahnya K.. Semoga sehat selalu dan makin banyak jobnya.. (Termasuk job buat akuu..#eh)

    November kayaknya mesti makan2 ya kitaa.. Setelah Han dan Aga..abahe K ga mau kalah juga. Tanggal 28 pun aku anniversary ke 7, xizixixi…

Bagaimana komentar kalian?