Parenting

Deteksi Dini Gangguan Perkembangan Anak Usia Dini

“Dut, kenapa nggak pakai alat bantu dengar?”

Pertanyaan yang terus berulang. Nyaris setiap bertemu dengan orang baru yang memahami jika aku adalah penyandang Hard of Hearing, mereka bertanya seperti itu. Aku memaklumi rasa ingin tahu ini dengan menjelaskan semampu yang kubisa dengan harapan ada ibrah yang bisa diambil dari kisahku.

Dulu, keadaan ekonomi keluargaku masih memprihatinkan. Boro-boro membeli alat bantu dengar yang berharga jutaan, untuk memeriksakan telingaku ke spesialis THT saja Ibu baru mampu saat aku sudah menginjak bangku kelas 6 SD.

Ya, penanganan akan gangguan pendengaranku terhitung sangat terlambat. Telingaku tidak bisa langsung mengenali jenis-jenis suara, ada proses panjang untuk mengenal satu demi satu warna suara. Singkatnya, untuk belajar menggunakan alat bantu dengar, aku membutuhkan waktu yang sangat panjang, seperti bayi yang harus mengenali berbagai macam suara.

Bagaimana dengan alat bantu dengar yang berkualitas bagus?

Sama saja. Aku sudah mencoba tiga jenis alat bantu dengar dengan hasil yang sama: alat itu hanya memperbesar suara, tetapi aku tidak bisa menerjemahkan suara. Rasanya, suara-suara yang kuterima berwarna sama seperti suara radio yang salah setting gelombang, kemresek nggak karuan.

Aku Memilih Stop Meributkan Alat Bantu Dengar dan Mengalihkan Energi ke Kegiatan Produktif Lainnya.

That’s, sebagai prolog betapa pentingnya ibu masa kini untuk membekali diri dengan ilmu Deteksi Dini Gangguan Perkembangan Anak Usia Dini agar tidak terjadi keterlambatan penanganan terhadap gangguan pada anak kita masing-masing.

Note: Emak K bukan psikolog, ya. Hanya Emak-emak Newbie yang tertarik belajar tentang Anak Berkebutuhan Khusus karena mengalami sendiri sakitnya di-bully dan minim perhatian. Ingin berbagi tentang apa-apa yang dulu pernah kupelajari, baik dari seminar maupun pengalaman diri sendiri.

Apa itu Deteksi Dini Gangguan Perkembangan Anak Usia Dini

Deteksi dini gangguan perkembangan anak usia dini adalah kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh orang tua atau orang di sekitar anak tentang perkembangan yang dicapai oleh anak, untuk selanjutnya kita bisa mendapatkan gambaran apakah ada gangguan perkembangan pada anak.

Pengamatan ini dilakukan bersifat sistematis dan tidak sistematis dengan menggunakan panduan asesmen Capaian Tugas Perkembangan Anak usia Dini sesuai dengan rentang usianya, (Will be published soon), bukan dengan ukuran anak tetangga atau anak sesembak artis selebgram lho, ya. 😀

Tujuan Melakukan Observasi Perkembangan Anak Usia Dini

Setiap orang pasti menginginkan anak berkembang sesuai dengan tugas perkembangannya, sempurna tanpa cacat apapun. Tetapi, please, be realistic, ada kalanya kenyataan tidak seperti harapan. Stop baper sampai memikirkan hal yang terlampau jauh, mending berbuat sesuatu untuk memetakan langkah selanjutnya.

  1. Menangkap/ memotret perilaku anak sebagaimana adanya. Bukan dengan kacamata kuda, apalagi kacamata Emak-emak yang baper dengan pencapaian anak tetangga. Eh.
  2. Memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kehidupan sosial anal.
  3. Mengeksplorasi topik pencapaian perkembangan anak.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Melakukan Observasi Perkembangan Anak

Sebelum melakukan observasi perkembangan anak, tanggalkan dulu segala bentuk kebaperan kita sebagai emaknya anak-anak, jangan sampai ada persepsi, prasangka, stereotif dan jangan menyimpulkan sesuatu hanya karena melihat perlaku tidak wajar dalam sekelebatan.

Jika tidak mampu melepas itu semua, lebih baik meminta pertolongan orang lain yang dipercaya untuk mengobservasi anak. Aku sering mendapati curhatan yang menyimpulkan jika anaknya hiperaktif hanya karena si anak memanjat teralis jendela seperti spiderman. (Seddiihhhh)

Kemampuan yang Perlu Diperhatikan Sebelum Melakukan Observasi Perkembangan Anak

Ada beberapa kemampuan yang WAJIB dimliki untuk mengobservasi perilaku anak. Berikut ini kemampuan yang harus dikuasai untuk mengobservasi perilaku anak:

  1. Mempertahankan Perhatian
  2. Detail atau memperhatikan detail
  3. Peka terhadap perubahan perilaku
  4. Menyimpulkan sampel-sampel perlaku

So, are you ready, Mak?

Hih, gini amat ya jadi emak-emak, harus multi talenta dan serba bisa. Termasuk jadi psikolog untuk anak sendiri. Hahaha. Enggak apa-apa, jadi Emak Masa Kini memang harus terus belajar, aku tidak ingin apa yang menimpaku dulu terulang kembali.

Seenggaknya, jika ada tugas perkembangan anak yang belum tercapai, kita bisa memetakan stimulasi apa yang harus dilakukan agar anak bisa mencapai tugas perkembangannya. Jika semua tugas perkembangan telah tercapai, kita bisa memetakan stimulasi untuk membantu anak mencapai tugas perkembangan selanjutnya.

Yuk, Stay Tuned, ya. Aku bakal membagikan free asesmen untuk mengamati pencapaian tugas perkembangan anak sesuai rentang usianya yang bisa didownload dan diprint dengan gratis.

 

6 thoughts on “Deteksi Dini Gangguan Perkembangan Anak Usia Dini”

  1. Bener banget mbak… Patokannya bukan anak tetangga, dan juga jangan sampai denial terhadap kenyataan ya mbak… Ini yang sering aku temukan…

Bagaimana komentar kalian?