Taman si K

Anak Sulit Membaca? Kisah ini Mungkin Bisa Memantik Optimisme

Ijinkan aku menarik nafas panjang, sebelum menuliskan kisah tentangnya, seorang guru kehidupan yang kini telah menulis puluhan buku, menjadi seorang dosen di almamaterku tercinta. Barangkali, orang-orang yang tidak menyangka jika dibalik beliau sekarang, menyimpan perjuangan yang luar biasa.

Dahsyatnya Doa Ibu

Bocah perempuan itu belum mampu membaca. Ketika gurunya bertanya, “tanggal berapa sekarang?”

Dia menjawab tanpa pikir panjang, “tiga puluh tiga!”

Sontak, semua teman sekelasnya tertawa terpingkal-pingkal. Mana ada tanggal tiga puluh tiga? Ia masih tidak bisa membaca meski telah menjejak bangku tingkat tiga-empat SD. Anak seusianya, sudah lancar membaca. Kurikulum SD yang dibuat pun sudah menuntut lancar membaca sejak kelas satu. Barangkali, jika aku menghadapi anak seperti ini, keningku akan berkerut-kerut lama.

 

Tetapi, tidak untuk kedua orang tuanya. Ibunya berujar dengan lantang, “Nanti kamu kuliah S2”

Bocah perempuan hanya mengangguk, boro-boro S2, membaca saja dia belum bisa. Namun kata-kata ibunya terus terngiang-ngiang di dalam dirinya. Ia baru bisa membaca ketika menjejak bangku kelas 5 SD.

Bocah perempuan yang lahir di dunia tiga puluhan tahun yang lalu, lima tahun silam berdiri di hadapanku pada acara bedah bukuku, Mahkota untuk Emak. Aku sengaja turun, duduk di bangku depan agar bisa menikmati cerita beliau. Beberapa kali menyeka air mata.

Ya, bocah perempuan yang dilahirkan tiga puluh tahunan lalu, kini telah menjelma sebagai sosok luar biasa. Bocah perempuan yang dulu sering diremehkan karena kelambanan di aspek membacanya, kini menjadi master pembaca. Bahkan master menulis yang luar biasa. menerbitkan buku-buku di penerbitan ternama.

Aku menahan air mata yang mulai mengambang. Allah! Ya, isapa menyangka jika seorang Wida Azzahida, penulis di berbagai penerbit ternama, dosen di almamaterku tercinta, cumlaude di tingkat S1 dan S2, juga founder Rumah Jodoh, menyimpan kisah dysleksia.

Ia Berjuang Mengatasi Kelemahan Seorang Penyandang Dysleksia

Tanda pertama yang kutangkap dari cerita beliau adalah ia kecil tidak mengerti konsep waktu, tidak mampu membaca jam klasik. Disusul tanda kedua yang sudah umum dikenal, tidak bisa membaca. Lengkapnya, tentang seorang dysleksia, aku mendapatkakan garis besar dari infografik yang beliau share:

 

Dan, beliau mampu mengatasi satu persatu kesulitan yang pernah dialami. Tetapi, yang paling penting, beliau membuktikan jika penyandang dysleksia berhak bermimpi dan memperjuangkannya seperti halnya anak-anak yang lain.

1 thought on “Anak Sulit Membaca? Kisah ini Mungkin Bisa Memantik Optimisme”

Bagaimana komentar kalian?