“Dadi guru kuwi abot.” keluh seorang teman semasa kuliah melalui whatsapp.

Mendapat pesannya, kepalaku mendadak nyut-nyutan. Obrolan ini berbuntut panjang yang mengarah pada satu kesimpulan, dunia akademik bukan dunianya.
“Enak ning sawah ya.” candaku.

Temanku satu ini ahli jika dihadapkan urusan persawahan. Ia sangat faham kapan waktunya tanam, kapan waktunya panen, apa saja hamanya, bagaimana menanggupanginya. Tangannya luwes jika berhadapan dengan tanah. Beberapa kali aku berkunjung ke rumahnya, pasti kami akan beriringan ke sawah untuk memetik aneka sayuran.

Tetapi ternyata dia benar-benar tertekan, candaanku tak mampu mengalihkan perbincangan.

Ini bukan kali pertama dia mengeluhkan profesinya sebagai guru PAUD. Sudah berulang kali, dengan masalah yang sama. Aku yang lebih memilih di rumah membersamai si K hanya bisa menemaninya berbincang melalui whatsapp. Aku masih buta perkembangan kurikulum sekolah belakangan ini karena memutuskan untuk fokus belajar pernak-pernik si K. Balasan chat-ku hanya sebatas menguatkan, memintanya bersabar dan tak lelah belajar.

(Sepertinya) Kuliah bukan Keinginannya

Pertama bertemu, aku menemukan sesuatu yang khas. Oh, bukan, bukan kondisi difable, tetapi lebih ke depresi. Tulisannya tidak lengkap, nafasnya akan memburu setiap kali berurusan dengan dosen, beberapa kali pingsan jika ada tugas yang meminta mahasiswa perform mandiri.

Aku dan teman-teman saling bahu-membahu untuk membantu, melobi dosen untuk meringankan standar kelulusannya, juga menolongnya untuk mengerjakan tugas yang terkait dengan teknologi.
Suatu waktu, aku bertanya, apakah kuliah adalah keinginannya sendiri?

Jawabannya menguatkan prasangkaku, dia kuliah karena (terpaksa) menuruti keinginan orang tuanya.

Ia bertutur bagaimana kekhawatirannya akan perkataan tetangga jika ia tidak kuliah, padahal kakaknya kuliah. 

Bisa saja aku menganggap, ah, masa bodoh dengan omongan tidak enak. Tetapi mungkin baginya ini bukan hal yang ringan.

Aku dan teman-teman yang lain tidak bisa membantu lebih jauh. Kami hanya bisa membantu apa yang bisa dibantu saat di kampus, saling berbagi tugas saat ia sakit atau pingsan karena tertekan.

Pesan tersembunyi nomor satu yang harus kuingat sepanjang aku menjadi orang tua:

Bisa jadi anak menuruti permintaan kita, bisa jadi anak terlihat baik-baik saja di depan kita, tetapi di luar sana mungkin saja ia menanggung beban psikis yang tidak ringan.

Ini tak Semudah yang Penting Lulus!

Suatu waktu, kami mendapat tugas untuk mengetik selembar tugas TIK menggunakan microsoft Word. Aku berpacu dengan waktu, mengabaikan ia yang kebingungan. Hingga seorang teman mendekatiku, “Widi, itu dia belum ngerjain tugas sama sekali, piye?”

Aku terbelalak. 

“Ah, iya, aku lali.”

Ya, aku lupa jika temanku satu itu masih bingung menggunakan piranti komputer. 

“Kamu bantu lah, Widi.” Sahut temanku yang lain sembari mengelus-ngelus pergelangan tanganku.

“Tetapi, ini tinggal lima belas menit, lho.” Aku mengelak.

“Ayolah, mesakke.”

Aku pun dengan sangat terpaksa menempuh cara yang instan, meng-copy tugasku dan save as dengan nama dan NIM-nya. Lima belas menit adalah waktu yang teramat singkat jika aku harus menuntunnya dari awal untuk mengerjakan tugasnya sendiri.

“Nggak papa, Widi. Yang penting nilainya tuntas, kan. Kasihan jika harus mengulang SKS.” ujar mereka menenangkanku.

Dan itu terus-menerus ke tugas yang lain, membuat slide presentasi, mengedit video, download video, mengirim email.

Kemarin, aku sangat menyesal membaca curhatannya. Sungguh! Ia mengeluh karena sampai saat ini kesulitan mengerjakan tugas sebagai guru karena belum mahir menggunakan segala hal berbau komputer. Tidak bisa download video-video sebagai referensi mengajar. Tidak bisa mengirim email, apalagi mengisi seabrek akreditasi yang sekarang berbasis online. Gusti, teman macam apa aku ini. 😭

Yang dulu kuanggap sebagai caraku untuk membantunya, ternyata kini menjadi bumerang. Kuliah tak semudah yang penting lulus, tetapi ada ilmu yang akan menjadi pijakan kelak.

Seandainya dulu aku lebih bersabar untuk menemaninya belajar langkah demi langkah. Seandainya dulu aku tidak berpikir sependek itu. Seandainya dulu aku menebalkan telinga ketika mendengarnya menyerah saat belajar segala hal tentang komputer…

Pelajaran kedua tentang menjadi orang tua,

Kadangkala harus tega melihat anak tertatih untuk berlatih skill yang terkait dengan passion yang dipilihnya. Menebalkan telinga saat anak menangis ingin menyerah.  Tangisan sekarang mungkin jauh lebih baik daripada ia menangisi waktu yang terbuang sia-sia.

Termasuk… harus sabar dan tabah membersihkan nasi yang berceceran saat si K makan sendiri. 😂😅

Beban Psikis yang Tak Berujung

“Widi, jika aku keluar bagaimana?” tulisnya, masih dengan whatsapp.

“Tetapi kalau aku keluar, aku jawab apa jika diledek tetangga? Sarjana kok ning sawah ora ngajar.”

Aku menelan ludah.

Aku enjoy menjalani peran sebagai IRT, sekaligus masa bodoh dengan omongan orang kurang gawean. Toh, aku tidak merugikan mereka. Tetapi hal seperti ini bukan perkara yang gampang untuknya, apalagi ia menanggung harapan orang tua di pundaknya, ‘kuliah agar diajeni, menjadi guru yang dihormati.’

Berat.

Jika tetap mengajar ia tertekan karena dunia akademik bukanlah dunianya. Jika keluar… ia tidak siap mengecewakan orang tua dan menghadapi omongan miring tentangnya.

Seandainya, seandainya ia didukung penuh untuk tetap bermesraan dengan sawah, barangkali ia akan jauh lebih produktif.

Ah, ini beban psikis yang tak kunjung usai. Lulus kuliah bukan berarti selesai. Lulus kuliah tantangan lain sudah menunggu.

Aku menulis ini untuk menjadi pengingat semata, agar kelak aku tidak memaksa si K mewujudkan ambisiku. Agar kisah ini tidak terulang kembali.

Kututup dengan doa, semoga ia menemukan jalannya. Apakah tetap mengajar atau kembali bermesraan dengan tanah, semoga ia kembali menemukan jiwanya. Menikmati perannya dengan sepenuh jiwa.

%d bloggers like this: